Merdeka45 News| Pemalang – Segala puji bagi Allah pemberi berbagai macam nikmat dan karunia yang begitu luas, sehingga kita dimudahkan dalam melaksanakan sholat Iedul Adha pada hari ini.

Sholawat dan salam semoga terlimpahkan pada nabi ahir jaman yang sariatnya sama dengan nabi nabi sebelumnya yaitu mengajarkan ajaran tauhid Nabi besar Muhammad SAW.

Iman dan Hotib  pada sholat Iedul Adha hari ini yaitu Bapak Amir Abdurrohman, Spd.I.

Beliau adalah wakil ketua korp mubalig Muhammadiyah PWM JAWA TENGAH.

Pelaksanaan sholat Ied kali ini bertempat di stadion Muchtar Kabupaten Pemalang pada hari Rabu,27 Mei 2026.

Mari kita refleksikan sosok Nabi Ibrahim AS bukan sebagai Abul Ambiya/ Bapak para nabi melainkan sebagai prototipe manusia dengan resiliensi iman dan Kecerdasan Spiritual yang paripurna.

Dalam psikologi islam RESILIENSI adalah kemampuan seseorang untuk bangkit dari tekanan mental yang hebat.

Nabi Ibrahim menghadapi ujian yang melampaui batas logika manusia mulai dari dibakar api, perintah meninggalkan istri dan bayi di gurun tandus, hingga perintan menyembelih putra nya Ismail AS.

Re_ framing dalam bahasa psikologi bermakna teknik psikologis untuk membingkai ulang atau mengubah sudut pandang terhadap suatu situasi, peristiwa, atau perilaku dari negatif menjadi lebih positif, realistis dan memberdayakan.

Dalam QS: AL ANBIYA Alloh berfirman yang artinya “KAMI BERFIRMAN (KEPADA API) ‘HAI API JADI DINGINLAH DAN MENJADI KESELAMATANLAH BAGI IBRAHIM’ MEREKA HENDAK BERBUAT MAKAR TERHADAP IBRAHIM, MAKA KAMI MENJADIKAN MEREKA ITU ORANG ORANG YANG PALING MERUGI” .

Kecerdasan dpiritual ( SQ ) dalam penyerahan diri (tawakkal).

Kecerdasan spiritual Ibrahim terlihat saat beliau mampu menyelaraskan kehendak pribadinya dengan kehendak ILLAHI, dalam peristiwa besar yang menguras emosional serta nalar.

Pertama saat beliau Ibrahim meninggalkan istrinya Hajar dan bayi kecil nya Ismail di padang tandus. Sebagaimana Alloh dalam firmannya dalam QS: IBRAHIM/14: 37.

Yang kedua adalah peristiwa penyembelihan Ismail terjadi dialog yang sangat sehat secara psikologis antara ayah dan anak , tidak ada paksaan melainkan komunikasi persuasif . Karena Ibrahim memiliki trust ( kepercayaan ) bahwa perintah Alloh pasti mengandung kebaikan . Meski secara lahiriah menyakitkan. Inilah puncak kesehatan mental: ketika seseorang didikte oleh ego melainkan dipandu oleh makna hidup yang luhur .

Sebagaimana yang termaktub dalam firman Alloh dalam QS: ASS SOFFAAT AYAT 99 _ 111.

Allahu akbar… Allohu akbar…

Allahu akbar…

Inilah kesehatan mental yang paripurna ibroh yang besar dalam peristiwa ini seharusnya bisa menjadikan diri kita lebih beriman dan bertawakkal kepada Alloh SWT , serta lebih yakin bahwa setiap perintah Alloh ada banyak kebaikan serta pertolongan  dekat dari Alloh ta’ala.

Sebagai ringkasan bahwa pelajaran dari kita adalah bahwa kesehatan mental yang hakiki berakar pada keteguhan iman.

Orang yang cerdas secara spiritual akan memiliki ” antibodi” mental terhadap stres. Ia tahu bahwa dunia ini dinamis namun ia memiliki jangkar yang statis dan kuat yaitu Alloh SWT.

Baarokallohu Fiikum.

EDDY

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *