“Solok Bersih Tinggal Slogan, Minimnya Pengawasan Birokrasi Jadi Penyebab Utama”
Merdeka45 News| Solok – Program Solok Bersih yang sempat menjadi sorotan publik pada 100 hari pertama kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Solok kini menunjukkan kenyataan yang memprihatinkan. Semangat gotong royong yang sempat membara di awal kepemimpinan perlahan memudar, sementara sampah plastik kembali “bergembira” di berbagai sudut perkantoran.
Awal yang Semarak, Akhir yang Sunyi
Di awal masa jabatan, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terlihat antusias menindaklanjuti instruksi pimpinan. Kepala dinas turun langsung memimpin aksi bersih-bersih, sementara Wakil Bupati Solok, H. Candra, S.Hi., ikut memotivasi aparatur menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan kerja.
“Setiap OPD harus menjadi contoh. Jaga kebersihan, keindahan, dan keasrian lingkungan kerja. Itu cermin komitmen kita terhadap pelayanan publik,” tegas H. Candra saat aksi gotong royong massal beberapa waktu lalu.
Namun, semangat itu kini mulai meredup. Beberapa bulan setelah program diluncurkan, kegiatan kebersihan rutin nyaris tidak terlihat. Sejumlah titik di kawasan perkantoran dipenuhi sampah plastik dan rerumputan liar. Fenomena ini menimbulkan kesan bahwa sebagian ASN dan PPPK hanya bergerak ketika ada sorotan media atau kegiatan seremonial pemerintah.
ASN Hanya Bergerak Saat Disorot
Ketua DPC Media Online Indonesia (MOI) Kabupaten Solok, Ega Yudhistira, menilai keberlanjutan program Solok Bersih tergantung pada konsistensi birokrasi.
“Gerakan Solok Bersih tidak boleh berhenti pada seremoni 100 hari. Ini bukan sekadar soal sampah, tetapi cermin budaya kerja aparatur dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Jika ASN hanya aktif saat ada instruksi atau liputan media, berarti ada yang salah dalam mental pelayanan publik kita,” ujar Ega, Minggu (9/11/2025).
Ega menegaskan, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup harus menjadi motor utama dalam memastikan program ini berjalan berkelanjutan. Sistem pengelolaan sampah harus terintegrasi dalam kebijakan, penganggaran, pengawasan, dan evaluasi rutin.
“Ada jadwal, ada pengawasan, ada evaluasi. Jangan biarkan sampah kembali jadi pemandangan biasa di kantor pemerintahan,” tambahnya.
Secara tegas, Ega juga menekankan bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar tanggung jawab administratif, tetapi juga amanah moral dan bagian dari keimanan.
“At-thahuru syathrul iman — kebersihan adalah sebagian dari iman (HR. Muslim No. 223). Bila nilai dasar ini diabaikan, kita tidak hanya lalai terhadap lingkungan, tapi juga terhadap ajaran yang kita yakini,” tegasnya.
Realita di Lapangan: Sampah Plastik Masih Menumpuk
Pantauan Merdeka45News.com hingga awal November 2025 memperlihatkan banyak titik di wilayah Solok masih dipenuhi sampah plastik. Kondisi serupa terjadi di Kompleks Islamic Center, Mall Pelayanan Publik (MPP), DISPERSIP, TIC, dan BPBD. Rumput liar tumbuh tak terurus, tong sampah rusak, dan sampah berserakan di sekitar gedung.
Kondisi ini menunjukkan bahwa teori dan konsep pengelolaan sampah yang pernah dinarasikan oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Solok belum sepenuhnya terimplementasi di lapangan. Minimnya pengawasan, lemahnya kesadaran ASN, serta kurangnya sinergi antar-OPD membuat program Solok Bersih kehilangan ruh gerakannya.
Komplek Perkantoran yang Seharusnya Simbol Modernitas
Lebih miris lagi, kawasan Kompleks Islamic Center Solok yang berada di jantung area perkantoran pemerintah justru terlihat memprihatinkan. Rumput liar tumbuh tak terurus di sekitar Gedung Megah TIC (Tourist Information Centre), sampah plastik berserakan di taman sekeliling Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, sementara tong sampah di sekitar Mall Pelayanan Publik (MPP) rusak parah dan tidak layak pakai.
Situasi ini mempertegas bahwa pengawasan terhadap kebersihan lingkungan kantor pemerintahan tidak berjalan optimal. Kompleks perkantoran yang seharusnya menjadi simbol pelayanan modern kini justru dikelilingi pemandangan yang kontras dengan citra Solok Bersih yang pernah dijanjikan.
Program Tanpa Komitmen Hanya Akan Jadi Slogan
Kondisi ini menjadi cermin bahwa tanpa komitmen berkelanjutan dan sistem yang jelas, program sebaik apa pun akan kehilangan makna. Solok Bersih yang dulu dielu-elukan kini seolah tinggal slogan, sementara sampah kembali memenuhi halaman perkantoran pemerintah.
Tanpa pengawasan, konsistensi, dan partisipasi aktif masyarakat serta ASN, sampah plastik akan terus menjadi pemandangan biasa, mengingatkan bahwa sekadar wacana tanpa aksi nyata hanyalah cerita sementara.
TimMN45











