Merdeka45 News| Solok — Suasana pagi yang cerah menyelimuti kawasan Pondok Pesantren Muhammadiyah Saniang Baka, Jumat (20/3/2026).
Sejak matahari mulai menampakkan sinarnya, ratusan jamaah dari berbagai jorong dan nagari tetangga sudah berdatangan dengan wajah penuh kebahagiaan untuk menunaikan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah.
Lantunan takbir yang menggema menambah kekhidmatan suasana. Jamaah tampak mengenakan pakaian terbaik mereka—baju koko, sarung, hingga busana muslim yang rapi dan berwarna-warni.
Anak-anak berlarian kecil di halaman, sementara orang tua saling menyapa dengan senyum hangat, menciptakan nuansa kebersamaan yang begitu terasa.
Di tengah suasana tersebut, pelaksanaan Sholat Id berlangsung tertib dan khusyuk. H. Drs. Fachrizal Alwis bertindak sebagai imam, memimpin jalannya ibadah dengan suara yang tenang dan penuh penghayatan.
Jamaah mengikuti setiap gerakan dengan khidmat, seolah larut dalam keheningan spiritual di hari kemenangan.
Sebelum sholat dimulai, pengurus Masjid Taqwa Muhammadiyah, Ridwan Husin, menyampaikan sambutan sekaligus laporan kegiatan selama Ramadan.
Ia mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme masyarakat dalam memakmurkan masjid.
“Ramadan tahun ini terasa sangat hidup. Jamaah begitu aktif, mulai dari tarawih, tadarus hingga kegiatan sosial. Ini bukti kebersamaan kita masih sangat kuat,” ujarnya dengan penuh haru.
Sholat Id kemudian dilaksanakan dengan tertib, diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan. Suasana hening sesaat menyelimuti saat takbir dikumandangkan, menciptakan momen spiritual yang mendalam bagi setiap yang hadir.
Memasuki khutbah, Buya Darman, BA, selaku Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Solok, menyampaikan pesan yang menggugah kesadaran jamaah.
Dengan gaya penyampaian yang tenang namun tegas, ia mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh sekadar menjadi rutinitas tahunan.
“Ibadah harus dilandasi ilmu. Tanpa ilmu, apa yang kita lakukan hanya menjadi kebiasaan tanpa makna,” ucapnya, disambut keheningan jamaah yang menyimak dengan serius.
Ia kemudian menekankan pentingnya iman sebagai pondasi utama.
Menurutnya, iman adalah kekuatan yang menjaga agar setiap amal tetap kokoh dan bernilai di hadapan Allah SWT.
Tak hanya itu, pesan tentang keikhlasan menjadi penekanan utama dalam khutbah tersebut.
Buya Darman mengingatkan bahwa ibadah harus murni karena Allah, bukan karena faktor lain.
“Jangan karena organisasi, jabatan, atau manusia. Ibadah kita harus benar-benar karena Allah SWT. Keikhlasan adalah kunci,” tegasnya.
Pesan tersebut terasa begitu menyentuh, seakan mengingatkan kembali hakikat ibadah yang sering kali terlupakan.
Ia juga menyinggung pentingnya istiqomah dalam mempertahankan amal kebaikan setelah Ramadan berlalu. Menurutnya, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah bulan suci berakhir.
“Kalau setelah Ramadan kita kembali seperti semula, maka kita belum berhasil. Istiqomah adalah bukti keimanan kita,” katanya.
Dalam khutbahnya, ia merangkum pesan tersebut dalam konsep “4 I”, yakni Ilmu, Iman, Ikhlas, dan Istiqomah sebagai fondasi utama dalam beribadah dan menjalani kehidupan.
Usai pelaksanaan sholat dan khutbah, suasana berubah menjadi hangat dan penuh keakraban.
Jamaah saling bersalaman, berpelukan, dan bermaaf-maafan. Senyum dan tawa kecil menghiasi setiap sudut, menciptakan momen haru sekaligus bahagia.
Sebagian jamaah terlihat berbincang santai, sementara anak-anak kembali bermain dengan riang. Momen ini menjadi simbol kuatnya tali silaturahmi yang terus terjaga di tengah masyarakat.
Idul Fitri di Saniang Baka bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kebersamaan, kehangatan, dan harapan baru.
Momentum ini diharapkan mampu menjadi titik awal bagi masyarakat untuk terus memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
TIMMN45











